Image by Cool Text: Free Logos and Buttons - Create An Image Just Like This

Sabtu, 01 Agustus 2020

Ada sebuah Pelajaran dari setiap Perjalanan



Perjalanan kali ini di mulai dari kenekatan wanita tangguh yang belum pernah menyusuri desa ini sebelumnya. Modal bisa baca google map kami dengan enteng bilang yukk capcus. Entar kalo tersesat yaa tanya warga sekitar.
Desa Badiri menjadi salah satu tujuannya tapi tidak cukup di katakan Desa Badiri. Kami mulai memasuki perkampungan yang tak seorang pun kami kenal ini dengan berani. Perkampungan kecil yang terletak di sudut Desa Badiri ini rata rata berpenduduk orang Nias. Jalan menanjak dan menurun dan di sertai bebatuan. Miris sebenarnya. Tapi uniknya, penduduk di sini dengan enteng membawa sepeda motornya di jalan bebatuan yang tidak rata.
Perjalanan tidak berhenti di perkampungan itu, kami mencoba menguji nyali dengan lebih
tepatnya "sok tangguhnya kami" tetap menelusuri jalan bebatuan yang mendaki tersebut.
Sampai akhirnya kami tiba di titik ingin menyerah.
"Balik aja lah kita" terucap dari salah satu temanku saat itu
Well, ke sok tangguhan itu belum berakhir.
Udh sampai sini juga, nanggung. Lanjut!
Keputusan untuk melanjutkan perjalanan tidak mudah, jalan yang menanjak dan berbatu menjadi tantangannnya. Akhirnya kami memutuskan jalan kaki dan menitipkan sepeda motor di salah satu rumah warga.
Kami mencoba ijin kepada yang punya rumah " Bu, boleh kami nitip motor di sini?"
Muka bingung dengan ekspresi plengak plongok.
Akhirnya kami simpulkan ibu itu gak ngerti bahasa indonesia.
Untungnya Ibu itu memanggil suaminya menggunakan bahasa suku mereka (nias).
Syukurnya bapak itu mengerti apa yang kami katakan.
Akhirnya kami berjalan, satu tanjakan terlewati dengan ngosngosan.
Seorang warga lewat.
"Pak di atas masih tanjakan berbatu lagi?"
Ada tanjakan berbatu lagi, tapi udh gak separah ini lagi.
Astagaa, gak kuat utk jalan kaki dengan jalanan seperti ini di tambah dengan google maps yang menginformasikan 3 km lagi kami kembali mengambil sepeda motor dan memutuskan naik motor kembali menyisiri jalan bebatuan ini.😂😂
"Kami ambil keretanya ya ibu"
Ibu yang gak ngerti bahasa kami itu hanya tersenyum.
"Sawogolo (Terimakasih) Ibu". Kata kami lagi
Senyumnya semakin merekah.
Syukurnya kami cuma tau itu 😂😂
Sampai di tujuan
Menikmati alam yang sangat luar biasa.
Membayar semua kelelahan dalam perjalanan menuju tempat itu.
Mengingat perjalanan pulang, rasanya gak usah pulang..
Tapi Pulang adalah keharusan.
Akirnya kami menyusuri perjalanan pulang yang masih rata meski berbatu.
Tergoda dengan rentetan buah Durian di pinggir jalan.
Kami berhenti memarkirkan sepeda motor.
Mengambil durian dan menikmatinya di pinggir jalan.
Dan tidak lupa kebiasaan orang batak dalam perjalanan yang di lakukan, saling bertanya marga (Partuturan).
Dengan tujuan dapat diskonan harga durian 😂😂
Perjalanan pulang dilanjutkan.
Tiba tiba, ban sepeda motor yang kami gunakan bocor.
Karena jalanan tanjakan dan turunan berbatu, kami membuat


jarak dalam perjalanan untuk mengindari jatuh beruntun.
Dan akhirnya kami yang bocor ban, tertinggal di belakang dan mereka terus maju.
Bapak pengangkut durian lewat dan menyapa "ayok, deluan yaa".
"iya pak, bocor ban kami"
Kami berdua mencoba mencari tempat tempel ban dan mencoba menyapa warga sekitar yang ternyata tidak mengerti dengan bahasa kami.
Tetap besyukur masih ada yang mengerti yang akhirnya menunjukan rumah yang punya alat tempel ban.
Menunggu ban sepeda motor dalam perbaikan kami mencoba menghubungi 2 teman kami yang mendahului kami.
Tapi Jaringan telpon gak ada.
Beberapa menit terlihat mereka mutar balik.
Ternyata mereka di beritahu sama Bapak bapak pengangkut Durian tadi (Makasih pak 🙂)

Di daerah sulit jaringan seperti ini komunikasi antar warga sangat di butuhkan memang.
Keramah tamahan masyarakat kampung ini juga gak berhenti disini.
Kami yang terlihat kaku saat menurunkan sepeda motor di jalanan terjal berbatu itu, tiba tiba seorang bapak keluar dari rumahnya "dibantu kak, menurunka?"
"Boleh pak" sahut kami
Tak sampai di situ
Ban yang baru di operasi dengan beberapa tempelan tadi harus diajak melewati jalan yang rumit ini (kayak hidup aja rumit) kembali kesakitan.
Belum sembuh total udh di paksa jalan.
Kami kembali menyapa masyarakat sekitan meminjam pompa angin. Saat kami berhenti, ada pemuda sekitar keluar rumah yang ingin mencari jaringan menyapa;
"kak, ada yang bisa di bantu?"
Ohh, tanya saja sama yang rumah itu.
Bergerak kerumah yang di tunjukan pemuda itu, lalu kami menyampaikan maksud kedatangan kami.
Mereka yang tak punya ikut membantu mencarikan pompa angin ke tetangganya.
Tak lupa kata "Sawagolo ibu" kami lontarkan kembali utk orang yang membntu kami.
Senyum merekah menyambut kata itu terpancar di wajah mereka, sambil mengulang kata itu.

Kalau di kota, belum tentu kita mau menyapa orang orang pendatang.
Mantap punya lah keramahtamahan perkampungan ini.

Mission Complete!
Sampai bertemu di misi berikutnya. Kalau masih kuat 😂😂

Lokasi : Air Terjun Nabudogor Desa Aek Bontar Kecamatan Tukka
Link Video Perjalanan : https://www.youtube.com/watch?v=wPKkOb5JBws&t=7s

Sabtu, 09 Mei 2020

Pandemi COVID-19 Yang Membuka Mata



 
"Guru bukan Dewa yang selalu benar dan harus ditakuti.
Guru adalah teman, sahabat, dan inspirator bagi setiap anak didiknya."


Oleh : Dewi Friska Butar Butar

 
Dunia geger dibuatnya!  Virus Corona atau Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019 lalu. Penyebaran virus yang belum ditemukan penawarnya itu hingga kini tak terkendali. Saat ini, pengobatan yang dipakai hanyalah pengobatan antivirus yang diharapkan dapat menekan perkembangan virus ini di dalam tubuh dan terapi simptomatik yang diharapkan meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh untuk bertahan dari serangan virus tersebut. Sampai akhirnya tubuh mempunyai waktu untuk membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut.

Lebih dari 200 negara di dunia melaporkan adanya kasus terpapar virus corona. Di Indonesia, kasus ini pertama kali ditemukan pada dua warga Depok, Jawa Barat awal Maret lalu. Pandemi COVID-19 juga ditemukan di beberapa kota lainnya, seperti Solo, Surabaya, Bandung, dll. yang jumlahnya semakin meningkat dari hari ke hari. Untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 presiden Jokowi pun mengimbau warga untuk menerapkan social/physichal distancing, memakai masker dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara olahraga, makan makanan bergizi dan vitamin, cukup tidur/istirahat, dan jangan stres.

Untuk menindaklanjuti imbauan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menegaskan dalam konferensi online, Selasa (24/3/2020) bahwa kegiatan yang mengumpulkan orang banyak, seperti halnya mengumpulkan siswa dan guru di sekolah untuk Penilaian Akhir Semester (PAS) tidak diperkenankan selama masa darurat COVID-19. Nadiem juga menganjurkan agar murid belajar dari rumah dan guru mengajar dari rumah. Hal itu dilakukan untuk menghindari perkumpulan perkumpulan siswa maupun guru yang dapat memperpanjang tali penyebaran COVID-19 serta dapat mempertahankan stabilitas pendidikan.
Pembelajaran daring yang dianjurkan oleh pemerintah bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa dan mendorong siswa menjadi kreatif yang mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, serta mengasah wawasan.

Dalam penerapan Study From Home (SFH) siswa diimbau untuk belajar meski berada di rumah. Guru tidak perlu lagi memberi banyak informasi, namun yang penting informasi yang membuat siswa produktif dan kreatif. Tidak dengan menyuapi anak dengan pengetahuan, tapi membiarkan anak memilih pengetahuan itu sendiri. Dalam sistem pembelajaran SFH ini guru dan orangtua berperan dalam mendampingi proses belajar anak selama berada di rumah. Meski terlihat menyenangkan, pembelajaran di rumah bukanlah sesuatu yang mudah bagi para orang tua, siswa dan guru. Hal ini dikarenakan sistem pembelajaran ini diberlakukan sangat tiba-tiba. Sehingga orangtua, siswa dan guru tidak memiliki persiapan dalam pembelajaran daring. Orangtua yang masih gagap teknologi kewalahan dalam mendampingi anak belajar di rumah dan harus memenuhi biaya kuota internet yang menjadi kebutuhan belajar anak. Siswa yang dibebani dengan tumpukan tugas dari tiap mata pelajaran yang berbeda dengan waktu pengerjaan yang singkat. Guru merasa kaget karena harus mengubah sistem, silabus dan metode belajar dengan cepat dan dituntut melakukan pembelajaran seperti jadwal biasanya serta melaporkan proses pembelajaran setiap harinya.
Dengan beberapa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 ini tak hanya berdampak pada perubahan tempat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) saja, namun juga terhadap Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), bahkan materi ajar juga tidak terimplementasikan dan ketentuan PAS sebagai penentu kenaikan kelas juga mengalami perubahan.

Saya sebagai salah satu tenaga pendidik di Sekolah Menengah Atas (SMA) pasti ada tantangan khusus yang dihadapi. Di mana sebelumnya tidak pernah menggunakan metode belajar jarak jauh. Dibutuhkan keahlian ekstra dalam mempersiapkan materi dan metode agar belajar jarak jauh dikemas semenarik mungkin. Berkreasi menggunakan aplikasi belajar dan mencari metode baru, dengan menggunakan aplikasi belajar online seperti, Google Classroom, Zoom, Couldx, WhatsApp, Facebook dan Messenger sebagai media belajar; Membuat video pembelajaran dan men-share kepada siswa agar siswa di rumah dapat memahami materi lebih mudah; Mengajak siswa membuat video-video pembelajaran dengan menarik. Metode metode ini dirancang guru sedemikian rupa agar siswa tetap bersemangat dalam mengikuti pembelajaran online.

 
 
Meskipun era sudah memasuki zaman millennium (ke-2), namun tidak bisa dipungkiri masih ada beberapa siswa yang tidak paham menggunakan gadget. Saya sebagai tenaga pendidik juga berupaya membuat latihan soal yang dapat dikerjakan siswa di rumah masing-masing dan setelah selesai pengerjaan soal, siswa memperoleh langsung skor/nilainya. Namun, metode-metode seperti itu juga tidak bisa berjalan secara merata kepada seluruh siswa, sebagaimana yang diharapkan.
Psikolog Universitas Indonesia, Dr. Rose Mini Agoes Salim mengatakan peserta didik harus membiasakan pembelajaran dalam jaringan (daring) selama berlangsungnya wabah COVID-19 di tanah air. Guru bisa menggunakan platform-platform pembelajaran daring tertentu dan bisa membantu anak sehingga anak  merasa tatap muka dengan gurunya. Bisa dengan menggunakan video dan lainnya.
Pembelajaran menggunakan video juga pernah saya terapkan. Video pembelajaran saya upload kemudian dibagikan di grup belajar siswa, begitu siswa selesai melihat video, mendengarkan apa yang dijelaskan, jika ada pertanyaan atau hal yang belum dipahami oleh siswa maka guru dan siswa mendiskusikannya bersama-sama. Namun, siswa yang sadar dan ikut berpartisipasi sangat minim.
 


Selain itu, kendala yang ditemukan pada sistem pembelajaran daring ini, yaitu dibutuhkannya akses jaringan internet, di mana ada beberapa siswa tinggal di daerah yang sulit mendapatkan jaringan internet.

Sehingga tenaga pendidik juga harus memaklumi dan tetap mengapresiasi siswa yang berupaya mengerjakan tugas dan mengumpulkannya lewat dari tenggang waktu yang diberikan. Dengan kata lain, guru harus siap membuka diri 24 jam menerima tugas siswa dan menjawab pertanyaan siswa mengenai materi pelajaran yang tidak dipahami.

Melihat kendala yang dialami dalam proses pembelajaran daring seperti ini, guru-guru di Indonesia perlu dipersiapkan untuk melakukan sistem pembelajaran online dengan mengadakan pelatihan dan sejenisnya agar mematangkan pemahaman guru mengenai proses pembelajaran daring dan dalam pelaksanaannya.
 
Pemerhati pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, pendidikan era 4.0 bukan lagi apa yang dipelajari melainkan bagaimana caranya belajar. Dalam hal itu, peran seorang pendidik sangat dibutuhkan, karena mereka harus membimbing peserta didik tentang caranya belajar dengan memanfaatkan internet.

Dengan adanya virus COVID-19 ini membuka mata saya, bahwa sistem pembelajaran daring tidak hanya memberikan tugas dan menuntut siswa untuk menyelesaikan tugas. Siswa lebih membutuhkan motivasi yang kuat dari pada skor. Kemampuan berkarya dan berkolaborasi yang akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Kita, khususnya tenaga pendidik, sebaiknya memberikan inspirasi dan memberikan kesempatan anak didik kita untuk berinovasi.

Seperti yang dicanangkan Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim kala ia memberi pidato pertama pasca dilantik:  “Jangan menunggu aba-aba, Jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama. Besok. Di mana pun Anda berada lakukan perubahan kecil di kelas Anda!”.
 
 
 Link : https://www.katakanlah.com/2020/05/pandemi-covid-19-yang-membuka-mata.html#more